Wednesday, December 26, 2007

Kaki Gunung Tangkuban Parahu Subang 12/24/2007 3:47:32 AM

Dingin sangat menyengat tubuh, membekukan semua jaringan dan persendian. Sepi menyelimuti tepian hutan yang aku singgahi. Disini di dalam huma dikaki gunung Tangkuban Parahu milik seorang petugas jagawana setempat aku menumpang nginap. Melepaskan sejenak penatku dan rutinitas membosankan di Bogor. Melihat sisi lain dunia yang sangat keras dan penuh tantangan. Telah lama aku tidak lagi tidur menyatu dengan alam seperti ini. Mungkin sudah hampir 11 tahun, sejak terakhir aku menyatu dengan lebatnya hutan dan gemuruhnya ombak tepian pantai Tangkoko. Tempat favoritku, dulu, kala aku sedang suntuk, sedih. Tempat dimana perenungan-perenungan tentang hidup aku mulai.
Perjalananku dimulai sejak hari minggu dengan menumpang bus jurusan Bogor –Bandung, akhirnya kusampai di Kota Bandung. Paris Van Java (dulunya), kota yang terkenal dengan julukan Bandung Lautan Api, namun saat ini dan aku saksikann sendiri , kota ini pantas berubah julukan menjadi “Bandung Lautan Sampah”. Jorok, kotor itulah kesanku pertama begitu menginjakkan kakiku di kota ini. Maka kloplah julukan bagi dua kota yang saling bertetangga tersebut. Bandung dengan lautan sampahnya maka Bogor dengan ”Lautan Angkotnya”.
Sebenarnya aku tidak punya rencana perjalanan yang tersusun rapi sejak Bogor. Aku hanya berencana melihat Kota Bandung, namun jiwa petualanganku yang sudah hampir terkubur, kembali bangkit. Aku tertantang untuk melakukannya, maka yang terlintas pertama dibenakku adalah daerah Lembang. Tujuanku ke Observatorium Lembang (tempat pengamatan bintang/antariksa). Maka dengan bermodalkan lidah alias tanya sana-sini, aku memperoleh informasi arah jalan ke Lembang. Namun aku sedikit kecewa begitu sampai di Observatorium tersebut, ternyata hari minggu/hari libur justru Tutup. Maka ”rencana B” kujalankan dengan sasaran Gunung Tangkuban Parahu.
Aku ingin kembali bernostalgia, dimana dulu sewaktu masa kuliah di Manado aku sering bepergian jauh dengan hanya menumpang truk dan atau mobil-mobil pribadi yang lewat. Ah...ternyata nikmat juga perjalananku kali ini. Setelah hampir 12 tahun tak kulakukan cara ini ternyata aku tetap tidak canggung.
Namun hari semakin gelap. Aku tiba di kaki gunung TP pukul 04.35 WIB. Kabut mulai turun, sehingga aku tertahan di lokasi perkebunan teh. Setelah beberapa saat mengambil momen-momen yang cukup indah dengan kamera digitalku. Kulangakahkan kakiku menuju sebuah warung minum di kaki gunung tersebut. Hari mulai merangkak malam. Sejurus kuhampiri seorang bapak pemilik warung tersebut, menanyakan apakah aku bisa menginap di tempatnya malam ini. Dengan ramah dan santun dia merujuk tempat temannya seorang jagawana, yang bisa aku tinggali malam ini. Sekedar melepas letih sejenak.
Namanya Pak Dadang, seorang petugas penjaga hutan (Jagawana) yang baru bertugas di lokasi tersebut selama 8 bulan. Kami cepat akrab, keramah-tamahan khas sunda membuatku betah. Dia banyak bercerita tentang teman-temannya yang juga baru diangkat menjadi jagawana dan ditempatkan di Sulawesi. Dia cukup beruntung karena ditempatkan dekat kampung halamannya Sumedang. Dari pria beranak 5 dan telah mempunyai cucu ini, aku bisa menarik pelajaran berharga. Aku sangat bersyukur dengan keadaanku saat ini, bisa memperoleh pekerjaan yang layak, mendapatkan kesempatan studi dengan biaya negara (walaupun minim). Namun mendengar dan melihat sendiri kisah seorang jagawana beranak 5 ini, membuatku tersadar bahwa masih banyak orang-orang yang lebih tidak seberuntung aku. Masih banyak para abdi-abdi negara yang tidak terabdikan oleh negara, yang termarjinalkan padahal perannya sangat tidak marjinal. Maka pantaslah, jika sering kita mendengar perambahan-perambahan hutan yang justru melibatkan para petugas kehutanan. Sebab hal ini menyangkut masalah perut, bukan hanya buat perut mereka individu namun juga menyagkut perut keluarganya, istri-anaknya. Bagaimana mungkin mereka akan memaksimalkan pengabdiannya pada negara dengan tunjangan gaji yang sangat minim. Sedangkan PNS golongan IV yang gajinya mendekati 2 juta saja merasa tidak cukup. Dimana dengan kenaikan harga barang-barang yang tidak significant dengan kenaikan gaji membuat cakupan gaji tersebut hanya cukup untuk ”bertahan hidup” diri dan keluarganya. Maka jangan salahkan mereka jika ”nyambi” di luar kerjaan kantor. Semata-mata hanya untuk mencari sampingan gaji untuk ”melanjutkan hidup”.
Dalam kelebatan hutan seperti foto disamping inilah, seorang Pak Dadang siang-malam harus bertugas, hanya ditemani suara jangkrik dan dingin yang menggigit.
Perjalananku masih sangat panjang, namun guratan kisah ini harus terhenti sejenak seiring matahari pagi yang segar mulai menampakkan wajahnya, dan aku pun harus bergegas melanjutkan perjalananku yang masih sangat panjang।


”Life is Journey, not a destination”

No comments: