Saturday, December 29, 2007

MANGROVE DAN PERANANNYA PADA WILAYAH PESISIR

Kawasan pantai dan hutannya merupakan daerah penyangga antara ekosistem darat dan laut. Kawasan ini juga merupakan salah satu sumber daya alam yang berguna bagi kehidupan manusia. Itulah sebabnya sumberdaya hutan pantai (mangrove) perlu dilindungi dan dilestarikan. Sesuai dengan Keputusan Presiden No.32 tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung maka diperlukan suatu usaha untuk mengetahui formasi mangrove sebagai kawasan perlindungan, pengawetan dan reklamasi. Untuk kawasan mangrove yang sudah terlanjur diesploitasi maka perlu dilakukan penghijauan kembali (regreening), secara nasional program ini telah dicanangkan sejak tahun 1993, namun lebih banyak mengarah pada penghijauan hutan-hutan darat dan taman hutan kota.

A. Potensi vegetasi mangrove Indonesia
Mangrove merupakan salah satu karakteristik utama dari wilayah/zone pesisir pada kepulauan di Indonesia. Area mangrove menutupi hampir seluruh garis pantai dan daerah estuary, menyebar dari Pulau Sumatra sampai ke Irian Jaya (Papua). Area mangrove umumnya dipengaruhi oleh pasang-surut air laut dengan keunikan zonasi vegetasinya. Diprediksi bahwa areal mangrove menutupi 4.25 juta ha atau 3.98% dari total hutan Indonesia.

Indonesia memiliki vegetasi hutan mangrove dengan keragaman spesies yang tinggi. Jumlah spesies yang tercatat mencapai 202 spesies yang terdiri dari 89 spesies pohon, 5 spesies palem, 19 spesies liana, 44 spesies epifit, dan 1 spesies sikas (Bengen dalam Prihatini, dkk., 2001) . Terdapat sekitar 47 spesies vegetasi yang spesifik hutan mangrove. Dalam hutan mangrove, paling tidak terdapat salah satu jenis tumbuhan mangrove sejati, yang termasuk ke dalam empat famili: Rhizoporaceae (Rhizophora, Bruguiera, dan Ceriops), Sonneratiaceae (Sonneratia), Avicenniaceae (Avicennia), dan Meliaceae (Xylocarpus). Pohon mangrove sanggup beradaptasi terhadap kadar oksigen yang rendah, terhadap salinitas yang tinggi, serta terhadap tanah yang kurang stabil dan pasang surut. Tumbuhan mangrove merupakan sumber makanan potensial bagi semua biota yang hidup di ekosistem mangrove.

B. Ekosistem mangrove
Komponen dasar rantai makanan di ekosistem mangrove adalah serasah yang berasal dari daun ranting, buah, dan batang mangrove. Serasah ini sebagian besar didekomposisi oleh bakteri dan fungi menjadi nutrien terlarut yang dapat dimanfaatkan langsung oleh fitoplankton, algae, maupun mangrove itu sendiri dalam proses fotosintesa. Sebagian serasah tadi dimanfaatkan oleh udang, ikan, dsb. sebagai makanan (dalam bentuk partikel –detritus).

C. Peranan Mangrove
Hutan mangrove selalu identik dengan perairan. Sebagai sebuah komunitas yang membentuk ekosistem perairan tentunya keberadaan mangrove tidak dapat dimarginalkan. Hutan Mangrove mempunyai multi fungsi yang tidak bisa tergantikan oleh ekosistem lain. Secara fisik berfungsi sebagai penstabil lahan (land stabilizer) yakni berperan dalam mengakumulasi substrat lumpur oleh perakaran bakau sehingga sering kali memunculkan tanah timbul dan juga mampu menahan abrasi air laut serta mampu menghadang intrusi air laut ke daratan. Fungsi biologisnya ialah sebagai tempat berlindung, bertelur dan berkembang biak bagi ikan. Sementara secara ekonomi hutan mangrove menghasilkan kayu yang nilai kalornya tinggi sehingga sangat bagus untuk bahan baku arang. Fungsi yang terakhir adalah fungsi kimia yakni sebagai penetralisir limbah kimia beracun berbahaya (http://www.geocities.com/bela_jar/pnt.html, 2002).
Makin hari keberadaan hutan mangrove bukannya makin dipertahankan justru semakin menyusut luas lahannya. Perkembangan penduduk dengan tingkat kebutuhan yang makin meningkat, secara cepat mendesak hutan mangrove dan berusaha menggantikan dengan usaha lain yang lebih cepat "menguntungkan" dari segi finansial namun sebenarnya sangat merusak lingkungan. Akhirnya bermunculan usaha pertambakan illegal dengan menebangi hutan mangrove yang ada secara liar. Belum adanya kesadaran masyarakat akan keuntungan ganda yang bisa didapatkan jika mengusahakan perikanan di hutan mangrove, menjadikan pertambakan merajalela menguasai perairan payau.

Kini saatnya masyarakat harus menyadari, dan berusaha untuk mengkombinasikan pertambakan dengan hutan mangrove sehingga selain keuntungan finansial didapat, kelestarian alam khususnya ekosistem perairan menjadi terjaga.

1 comment:

mantau-researcher said...

go environmental friendly..!! reduce the global warming..go greeny mangroves