Friday, December 28, 2007

Short Review : PERTUMBUHAN REGIONAL DAN KEBIJAKAN-KEBIJAKAN DI UNI EROPA: APAKAH KEBIJAKAN UMUM PERTANIAN MEMILIKI EFEK BALIK?

Artikel oleh Roberto Esposti
diterbitkan dalam American Journal of Agricultural Economics Vol. 1 No. 89 February 2007

I. SUMMARY

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengkaji konsistensi dari perumusan Common Agricultural Policy (CAP) dengan sasaran I kebijakan-kebijakan structural. Maksud ekplisit dari kebijakan structural adalah untuk mendukung pertumbuhan convergence di Uni Eropa (UE), sehingga artikel ini melakukan dua hipotesis dengan model pertumbuhan convergence konvensional,yaitu : 1). Apakah pembiayaan structural betul-betul mempengaruhi proses convergence secara regional?; 2). Apakah perumusan CAP (pilar pertama) memberikan efek yang tidak seimbang?. Dengan menggunakan pendekatan empiris terhadap pertumbuhan ekonomi dan wilayah, maka artikel ini difokuskan pada bidang pertanian khususnya kebijakan-kebijakan pertanian. Hal ini berdasarkan fakta bahwa peranan pertanian sangat besar dalam proses pertumbuhan convergence terutama pertumbuhan ekonomi antar wilayah. Konsep utama penelitian yang coba diangkat dalam artikel ini adalah apakah kebijakan-kebijakan UE dapat konsisten jika disajikan dalam bentuk “formal” dari model pertumbuhan convergence.
Artikel ini berusaha untuk memperkirakan dampak dari sasaran 1 : pendanaan terstruktur dan pengukuran kebijakan umum pertanian (CAP) di Uni Eropa dengan model pertumbuhan terpusat (Growth Convergence Model) melalui adopsi spesifikasi dynamic panel-data. Dalam model conditioanal convergence, pembiayaan terstruktur mempengaruhi ratio investasi regional, sedangkan dukungan dari CAP dan pekerja bidang pertanian saling mempengaruhi terhadap tingkat teknologi regional. Termasuk pengaruh variable-variabel di dalam “formal” model conditional convergence yang bukan hanya menyediakan justifikasi secara teoritis untuk aplikasi empiris tapi juga menyediakan pengkajian mengenai apakah dengan penerapan pembiayan terstruktur bisa menjadi penyeimbang terhadap kebijakan-kebijakan yang mendukung sector-sektor yang produktivitasnya rendah seperti dalam kasus ini adalah kebijakan-kebijakan pertanian.
Hasil penelitian mengkonfirmasikan bahwa spesifikasi dinamis bisa disesuaikan dalam aplikasi empiris dan selain itu, tergantung pula spesifikasi dan adopsi dari estimator dimana pemusatan pertumbuhan tersebut diteliti. Seperti yang telah dikemukakan dalam berbagai literatur, ratio convergence bisa berubah-ubah significantnya tergantung spesfikasi dan estimatornya. Dimana, tingkat kepercyaan dan konsistensi perkiraan dari ratio convergence memiliki range antara 3% dan 11 %, sementara ratio 2 – 3% biasanya diperoleh dalam studi antar sektor.
Dalam hubungan dengan pengaruh variable-variabel, dampak positif dari pembiayaan Objective 1 telah dikonfirmasi. Hasil yang diperoleh umumnya konsern pada pertumbuhan convergence. Hal ini ditunjukkan dengan hasil uji statistic dari β-convergence yang significant.. Perbedaan umum muncul antara GMM-SYS dan GMM-DIFF estimator. Di lain pihak ratio convergence-λ berada antara range 0.02 – 0.03, dimana selanjutnya range tersebut bervariasi antara 0.05 – 0.11. Namun pada intinya, hipotesis dari conditional convergence bisa diterima.
Jika membandingkan hasil penelitian ini dengan studi-studi yang telah dilakukan sebelumnya tentang dampak dari kebijakan-kebijakan Uni Eropa, maka penelitian-penelitian tersebut juga menampakkan mengenai bagaimana kebijakan-kebijakan tersebut dimasukkan ke dalam model estimasi, bagaimana masing-masing data tersebut diperlakukan dan khusus maka bagaimana mereka berinteraksi. Interaksi ini berhubungan dengan transformasi berkelanjutan dari komposisi sektoral secara regional dengan acuan khusus mengenai peranan dari sector pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi suatu wilayah.


II. ULASAN

Menilik judul yang dikemukakan dalam artikel ini, dapat diprediksi bahwa penulis artikel ini berusaha mengangkat isu penetapan kebijakan pembangunan pertanian di Uni Eropa terhadap pertumbuhan ekonomi dan struktur pengambilan kebijakan ekonomi secara keseluruhan di wilayah tersebut. Dan apakah penetapan kebijakan umum pertanian tersebut memiliki efek balik terhadap pertumbuhan ekonomi di wilayah Uni Eropa.
Dalam upaya meneliti dampak dari kebijakan umum pertanian dan struktur kebijakannya, penulis artikel banyak melakukan estimasi menggunakan conditional growth convergence model. Dalam bukunya yang berjudul “Teori Makroekonomi”, Mankiw N.G. (2005) menyebutkan istilah convergence sebagai suatu cara dari Negara/wilayah berkembang atau yang memiliki perekonomian rendah (miskin) untuk mengejar ketertinggalannya dari Negara/wilayah yang sudah maju (kaya). Untuk memahaminya Mankiw memberikan suatu analogi sebagai berikut “bayangkan bahwa anda bertugas mengumpulkan data tentang mahasiswa. Pada akhir tahun pertama, beberapa mahasiswa mendapat nilai rata-rata A, sementara yang lainnya mendapat C. Apakah anda berharap mahasiswa yang mendapat nilai A dan C akan tetap bertemua selama tiga tahun berikutnya? Jawabannya tergantung pada mengapa nilai tahun pertama mereka berbeda. Jika perbedaan ini muncul karena beberapa mahasiswa berasal dari SMA unggulan dibandingkan dengan lainnya, maka anda dapat berharap ada beberapa mahasiswa yang sejak awal tidak diuntungkan untuk dapat mengejar prestasi rekan mereka dari SMA unggulan. Akan tetapi jika perbedaannya muncul karena sebagian lebih giat belajar dibanding lainnya, maka anda dapat menduga bahwa perbedaan nilai tersebut akan terus ada”.
Berdasarkan analogi tersebut dapat dikemukakan bahwa jika suatu Negara/wilayah yang miskin perekonomiannya tidak sungguh-sungguh berusaha dengan berbagai cara dan bekerja keras untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya, maka akan tetap terdapat perbedaan perekonomian yang mencolok antara Negara/wilayah miskin dan kaya (maju). Contoh kasus Negara Jerman dan Jepang yang mampu meningkatkan pertumbuhan perekonomiannya dalam kurun waktu singkat dari kehancuran akibat perang dunia II, sehingga saat ini dapat melampaui tingkat pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan beberapa Negara Eropa Barat lainnya.
Selanjutnya, masih berhubungan dengan convergence model diperoleh pula tingkat kepercayaan dan konsistensi estimasi dari ratio convergence yang memiliki range antara 3% dan 11%. Sementara ratio 2 – 3% biasanya diperoleh dalam studi antar sector. Data tersebut menunjukkan bahwa kesenjangan perekonomian antar Negara-negara di Uni Eropa berkonvergensi pada range 3 – 11% per tahunnya. Sementara berdasarkan teori disebutkan bahwa umumnya kesenjangan antara perekonomian antara negara mapan dan belum mapan atau negara kaya dan miskin menyempit pada tingkat 2% (Mankiw, G., 2005; Dornbusch, 2004). Hal ini cukup membuktikan bahwa di Negara-negara Uni Eropa yang boleh dikatakan sudah mapanpun masih terdapat kesenjangan pertumbuhan ekonomi yang cukup mencolok. Kondisi ini kemungkinan terjadi pada saat negara-negara eks Komunis (Eropa Timur) bergabung dalam Uni Eropa yang menyebabkan negara-negara tersebut seperti Jerman Timur dan Hongaria, harus bekerja keras mengejar ketertinggalan pertumbuhan perekonomiannya dari negara-negara Eropa Barat yang telah lebih dulu mapan. Teori pertumbuhan neoklasik memprediksikan konvergensi absolute terjadi bagi perekonomian-perekonomian dengan tingkat tabungan, pertumbuhan, akses teknologi yang sama. Dalam artian Negara-negara/ wilayah-wilayah tersebut akan mencapai pendapatan steady state (tetap) yang sama. Sedangkan konvergensi kondisional diprediksi bagi perekonomian-perekonomian pada tingkat tabungan dan pertumbuhan populasi yang berbeda, sehingga pendapatan steady state akan berbeda, namun dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang semakin merata (Dornbusch, et.al., 2004)
Tujuan penelitian yang terkandung dalam artikel ini adalah untuk mengkaji konsistensi dari perumusan CAP dengan tujuan I atau titik berat pada kebijakan-kebijakan structural. Sehingga Artikel ini banyak menyinggung dan membahas kebijakan umum pertanian (the Common Agricultural Policy/ CAP) terutama di Uni Eropa yang merupakan pula hipotesis apakah memiliki efek perlakuan balik terhadap pertumbuhan perekonomian Uni Eropa. Namun baiknya mari kita tinjau tujuan dari perumusan CAP itu sendiri, yaitu untuk menyediakan standart hidup yang pantas bagi petani dan konsumen pertanian dengan pangan yang berkualitas dengan harga yang terjangkau serta memelihara adat istiadat/ kebiasaan setempat (www.wikipedia.com, 2007). Selain itu kebijakan tersebut telah akan meningkatkan perubahan yang diperlukan masyarakat, sehingga dapat terciptanya ketahanan pangan yang sustainable, kelestarian lingkungan, peningkatan nilai mata uang dan produk pertanian, dimana hasilnya diharapkan dapat pula mengkonversi bahan baker fosil dengan bahan baker nabati, hal ini penting untuk pemantapan CAP selanjutnya.
Hal ini sejalan dengan uraian awal dalam artikel ini yang menyebutkan bahwa Uni Eropa menghabiskan hampir 45% anggaran belanja per tahunnya (sekitar 95 miliar Euro pada tahun 2000) untuk merumuskan Common Agricultural Policy (CAP) dan sekitar 25 % untuk kebijakan-kebijakan structural khususnya untuk mendukung kebijakan wilayahnya. Dimana belakangan ini perumusan kebijakan tersebut didesain untuk mempromosikan pertumbuhan ekonomi pada wilayah-wilayah yang income per kapitanya kurang dari 75% dari rata-rata Uni Eropa. Selain itu bertujuan untuk meningkatkan pemerataan pertumbuhan ekonomi di Uni Eropa. Hal ini pula yang menjadi tujuan pertama dari pembentukan/ perumusan kebijakan dan wilayah di Uni Eropa.
Maksud eksplisit dari kebijakan structural adalah untuk mendukung pertumbuhan convergence di Uni Eropa (UE), maka dalam artikel ini dilakukan 2 hipotesis dengan penerapan model convergence pertumbuhan secara konvensional, yaitu :
1. apakah pembiayaan struktural betul-betul mempengaruhi proses convergence secara regional?
2. apakah perumusan CAP (pilar utama) memberikan efek yang tidak seimbang?
Dengan menggunakan pendekatan empiris terhadap pertumbuhan ekonomi dan wilayah, maka artikel ini difokuskan pada bidang pertanian khususnya kebijakan-kebijakan pertanian. Hal ini berdasarkan fakta bahwa peranan pertanian sangat besar dalam proses pertumbuhan convergence terutama pertumbuhan ekonomi antar wilayah. Konsep utama yang coba diangkat dalam artikel ini adalah apakah kebijakan-kebijakan Uni Eropa dapat konsisten jika disertakan/ dimasukkan dalam bentuk formal dari model pertumbuhan convergence.
Namun sebelum melangkah lebih dalam marilah kita tinjau sejenak sejarah dari Common Agricultural Policy terutama di Eropa. CAP lahir pada akhir era 50-an dan awal 60-an ketika pendiri dari Economic Council (EC) muncul untuk mengatasi krisis pangan selama dan setelah perang dunia II. CAP dirumuskan sebagai bagian dari suatu pembangunan pasar umum, penentuan/ penetapan harga produk pertanian. Namun bagaimanapun pengaruh politik masih mencengkram para petani termasuk isu-isu sensitif sehingga perlu beberapa tahun sebelum CAP secara penuh diimplementasikan (www.wikipedia.com, 2007).
CAP merupakan sistem yang terintegrasi dari suatu perumusan yang bekerja dengan menjaga kestabilan harga komoditas pertanian serta produk-produk bersubsidi dari Uni Eropa. Terdapat 3 prinsip mekanisme kerja dari CAP, yaitu sebagai berikut:
1. Tarif import diterapkan pada barang-barang import spesifik yang masuk ke UE. Terdapat pengaturan kenaikan harga dari harga pasar global disesuaikan dengan target harga dari UE. Harga sasaran dipilih dari harga maksimum yang diinginkan untuk barang-barang tertentu sesuai kebutuhan di UE. Kuota juga digunakan dengan maksud membatasi jumlah dari bahan makanan yang diimport ke UE.
2. Intervensi harga dalam negeri juga diatur. Jika harga pasar dalam negeri turun di bawah tingkat intervensi maka Uni Eropa akan membeli barang-barang untuk menaikkan harga guna menyesuaikan pada tingkat intervensi. Harga intervensi diatur lebih rendah dari harga sasaran. Harga dalam negeri hanya bisa bervariasi rangenya antara harga intervensi dan harga sasaran.
Subsidi diperlukan untuk pembayaran ke petani bagi hasil-hasil panen tertentu. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong petani guna memilih hasil-hasil panen yang berkualitas dan menjaga suplay. Subsidi umumnya dibayarkan pada areal pertanian tertentu, dan tidak diberikan pada sejumlah produk hasil panen. Reformasi diimplementasikan dari tahun 2005 dan menghapus secara bertahap subsidi panen yang spesifik, namun hanya didasarkan pada areal lahan tanam pertanian, sehingga petani dapat mengadopsi metode/ teknologi pertanian yang menguntungkan. Ini akan mengurangi, tetapi tidak menghapuskan insentif untuk over produksi ke depan. (www.wikipedia.com, 2007).
Hasil yang diperoleh dalam artikel ini umumnya konsern pada pertumbuhan convergence. Hal ini ditunjukkan dengan hasil uji statistic dari β-convergence yang significant.. Perbedaan umum muncul antara GMM-SYS dan GMM-DIFF estimator. Di lain pihak ratio convergence-λ berada antara range 0.02 – 0.03, dimana selanjutnya range tersebut bervariasi antara 0.05 – 0.11. Namun pada intinya, hipotesis dari conditional convergence bisa diterima.
Dalam melakukan estimasi penulis artikel ini menggunakan Generalized Method of Moment (GMM) adalah satu dari dua pengembangan ekonometrik di awal era 80-an yang merupakan revolusi empiric dari makroekonomi (hal lain untuk memahami unit akar dan co-integrasi) (SØrensen, 2007). Dalam studi pertumbuhan ekonomi, procedure ini memiliki keunggulan dibanding simple-cross section regresi dan metode-metode estimasi lainnya. Pertama karena tidak memiliki bias lebih panjang dengan menghilangkan berbagai variable lain sehingga selalu konstan. Dalam conditional convergence regresi, proses ini mengindarkan permasalahan yang muncul dengan menghilangkan inisial efisiensi. Kedua, penggunaan variabel-variabel instrumental memungkinkan parameter-parameter untuk diestimasi secara konsisten dalam model-model yang termasuk dalam variable-variabel endogeneous right-hand-side sepertihalnya ratio investasi dalam konteks persamaan pertumbuhan. Pada akhirnya, penggunaan potensial instrument memungkinkan estimasi yang konsisten walaupun dalam kenyataannya pengukuran tersebut error (Bond, et.al., 2001).

II. PENUTUP

Di bagian penutup dapat disimpulkan beberapa hal yaitu :
• Perumusan Kebijakan Umum Bidang Pertanian (The Common Agricultural Policy) di Indonesia dapat mencontoh apa yang telah dilakukan di Uni Eropa, dimana mereka berusaha untuk meminimalisir kesenjangan perekonomian antar negara di wilayah Uni Eropa sehingga mencapai ratio convergence yang diinginkan. Seperti diketahui propinsi-propinsi di Indonesia yang umumnya agraris namun dilain pihak terkadang pengambilan kebijakan bidang pertanian justru tidak memihak pada bidang pertanian. Akibatnya perekonomian yang seharusnya disokong oleh bidang pertanian menjadi berjalan lambat, dampaknya pertumbuhan ekonomi daerah yang lambat. Namun ada pula daerah-daerah sentra pertanian (semisal sentra beras) yang menerapkan kebijakan pertanian yang betul-betul memihak pada petani dan bidang pertanian pada umumnya. Daerah inilah yang pertumbuhan ekonominya justru lebih stabil. Sehingga hal ini menimbulkan kesenjangan-kesenjangan antar daerah, untuk itu perlu dilakukan model conditional convergence agar daerah-daerah yang masih tertinggal dapat mengejar ketertinggalan perekonomiannya dari daerah lain.
• Indonesia pun jika ingin memajukan pertumbuhan perekonomian harus konsisten pada peran bidang pertanian. Sepertihalnya UE yang menerapkan proteksi terhadap produk-produk pertaniannya yang telah tertuang dalam CAPnya serta subsidi terbatas yang sasarannya bukan pada hasil produk pertanian namun pada lahan pertanian sehingga dapat meningkatkan produktivitas lahan tersebut. Sehingga hal ini secara significant dapat meningkatkan produksi dan harga jual produk. Sementara produk-produk pangan impor dibatasi pemasukannya ke wilayah UE, sehingga produk-produk local masih bisa bersaing. Hal ini selain dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian wilayah juga dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan petani dan keluarganya.

DAFTAR PUSTAKA
Bent E. SØrensen, 2007 Teaching notes on GMM 1. http://www.uh.edu . Acces and Download at Saturday, 9/29/2007 2:39:29 PM.

Bond, S., A. Hoeffler, J. Temple, 2001. GMM Estimation of Empirical Growth Models. www.nuff.oc.ac.uk . Access and download on Oct.1st, 2007 at 11.30 PM

Dornbusch, R., S.Fischer, R.Startz, 2004. Macroeconomics. International Edition. Ninth Edition. The McGraw-Hill Companies.

Mankiw, G.N., 2005. Teori Makroekonomi. Edisi Kelima. Terjemahan . Penerbit Erlangga, Jakarta. 535 hal.

Roberto León-González Daniel Montolio. 2001. Growth, Convergence And Public Investment. A Bayesian Model Averaging Approach. WeInstituto de Estudios Fiscales. N.I.P.O.: 111-03-006-8. I.S.S.N.: 1578-0252 Depósito Legal: M-23772-2001.

www.wikipedia.com, 2007. Common Agricultural Policy. Acces and Download on Sept.27th, 2007 at 12.30 PM.

1 comment:

pramono said...

wah artikelnya bagus, ....pramonobuanget.blogspot.com