Tuesday, January 15, 2008

ARTEMIA, PAKAN ALAMI BERKUALITAS UNTUK IKAN DAN UDANG

Abstrak

Artemia merupakan pakan alami yang banyak digunakan dalam usaha pembenihan ikan dan udang, karena kandungan nutrisinya baik. Akan tetapi di perairan Indonesia tidak atau belum ditemukan Artemia, sehingga sampai saat ini Indonesia masih mengimpor Artemia sebanyak 50 ton/ tahun, dimana harganya dalam bentuk kista/ telur antara Rp 400.000 – 500.000/ kg (Suara Merdeka, 2002). Walaupun pakan buatan dalam berbagai jenis telah berhasil dikembangkan dan cukup tersedia untuk larva ikan dan udang, namun Artemia masih tetap merupakan bagian yang esensial sebagai pakan larva ikan dan udang di unit pembenihan. Cyste Artemia yang dibutuhkan sebagian besar masih diimpor, umumnya dari Amerika Serikat dan hanya sebagian dari China (Yap et.al. dalam Yunus, dkk., 1994). Tetapi kebanyakan cyste impor yang ada di Indonesia kualitasnya masih rendah. Artemia mudah sekali dicerna karena kulitnya sangat tipis (< pufa =" Polyunsaturated" hufa =" Highly">

Kata Kunci : Artemia, cyste, nauplius, PUFA

PENDAHULUAN

Artemia merupakan pakan alami yang banyak digunakan dalam usaha pembenihan ikan dan udang, karena kandungan nutrisinya baik. Akan tetapi di perairan Indonesia tidak atau belum ditemukan Artemia, sehingga sampai saat ini Indonesia masih mengimpor Artemia sebanyak 50 ton/ tahun, dimana harganya dalam bentuk kista/ telur antara Rp 400.000 – 500.000/ kg (Suara Merdeka, 2002). Walaupun pakan buatan dalam berbagai jenis telah berhasil dikembangkan dan cukup tersedia untuk larva ikan dan udang, namun Artemia masih tetap merupakan bagian yang esensial sebagai pakan larva ikan dan udang diunit pembenihan. Keberhasilan pembenihan ikan bandeng, kakap dan kerapu juga memerlukaan ketersediaan Artemia sebagai pakan alami esensialnya, serta dengan adanya kenyataan bahwa kebutuhan Artemia untuk larva ikan kakap dan kerapu 10 kali lebih banyak dibandingkan dengan larva udang, maka kebutuhan cyste Artemia pada tahun-tahun mendatang akan semakin meningkat (Raymakers dalam Yunus, dkk., 1994). Secara umum terdapat dua alasan mengapa penggunaan pakan hidup alami sepertihalnya Artemia lebih mengutungkan dibandingkan pakan buatan (pellet, dll) dalam pemeliharaan larva-larva hewan air (ikan dan crustacean), yaitu : 1. Buruknya kualitas air mengakibatkan disintegrasi micropelet yang biasanya pemberian pakan tersebut cenderung berlebihan dengan tujuan pertumbuhan yang sempurna. 2. Tingginya tingkat mortalitas, mengakibatkan malnutrisi dan atau penyerapan komponen-komponen nutrisi pakan pellet yang tidak komplit (http://www.aquafauna.com/, 2004).
Cyste Artemia yang dibutuhkan sebagian besar masih diimpor, umumnya dari Amerika Serikat dan hanya sebagian dari China (Yap et.al. dalam Yunus, dkk., 1994). Tetapi kebanyakan cyste impor yang ada di Indonesia kualitasnya masih rendah. Sehingga menyebabkan produksi yang beragam dan kematian masal larva udang. Untuk itu ditempuh jalan untuk dapat membudidayakan Artemia di tambak secara lokal. Dari hasil budidaya Artemia secara lokal ini diperoleh beberapa keuntungan yaitu waktu transportasi dan penyimpanan lebih singkat, pengawasan kualitas pada proses produksi dan pengawasan terhadap pengelolaan lingkungan tambak budidaya mengarah pada produksi cyste Artemia lokal yang berkualitas dan aman. Lebih jauh lagi, produksi Artemia lokal dapat menunjang penghematan devisa melalui subtitusi impor.

LEBIH DEKAT DENGAN Artemia
A. Klasifikasi
Artemia atau brine shrimp adalah sejenis udang-udangan primitive. Menurut Vos and De La Rosa dalam Sambali (1990); Sorgeloos dan Kulasekarapandian (1987); Cholik dan Daulay (1985); Tunsutapanich (1979), Artemia termasuk dalam:
Phylum : Arthropoda
Klass : Crustacea
Subklass : Branchiopoda
Ordo : Anostraca
Famili : Artemiidae
Genus : Artemia
Spesies : Artemia sp.

Oleh Linnaeus, pada tahun 1778, Artemia diberi nama Cancer salinus. Kemudian pada tahun 1819 diubah menjadi Artemia salina oleh Leach. Artemia salina terdapat di Inggris tapi spesies ini telah punah (Sorgeloos dan Kulasekarapandian, 1987).
Dalam perkembangan dewasa ini, secara taksonomis nama Artemia salina Leach sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa diantara kelompok-kelompok Artemia terdapat dinding pemisah perkawinan silang. Dua kelompok Artemia yang tidak dapat melakukan perkawinan silang dinamakan sibling spesies.
Untuk Artemia hingga saat ini telah ada 20 kelompok yang berkembang biak dengan kawin yang diklasifikasikan ke dalam beberapa sibling spesies. Disamping itu ada juga jenis Artemia yang berkembang biak tanpa kawin. Beberapa contoh jenis Artemia antara lain Artemia fransiscana, A. tunisana, A. urmiana, A. persimilis, A. monica, A. odessensis, sedangkan yang tanpa kawin Artemia partogenetica (Mudjiman, 1983). Untuk menghindari kebingungan dalam penamaan, maka Artemia dinamakan dengan Artemia sp. Saja.

B. Morfologi
b.1 Telur
Telur Artemia atau cyste berbentuk bulat berlekuk dalam keadaan kering dan bulat penuh dalam keadaan basah. Warnanya coklat yang diselubungi oleh cangkang yang tebal dan kuat (Cholik dan daulay, 1985). Cangkang ini berguna untuk melindungi embrio terhadap pengaruh kekeringan, benturan keras, sinar ultraviolet dan mempermudah pengapungan (Mudjiman, 1983).
Cangkang telur Artemia dibagi dalam dua bagian yaitu korion (bagian luar) dan kutikula embrionik (bagian dalam). Diantara kedua lapisan tersebut terdapat lapisan ketiga yang dinamakan selaput kutikuler luar, seperti yang terlihat pada gambar 1.
Gambar 1. Penampang Cangkang Telur Artemia

Korion dibagi lagi dalam dua bagian yaitu lapisan yang paling luar yang disebut lapisan peripheral (terdiri dari selaput luar dan selaput kortikal) dan lapisan alveolar yang berada di bawahnya. Kutikula embrionik dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu lapisan fibriosa dibagian atas dan selaput kutikuler dalam di bawahnya. Selaput ini merupakan selaput penetasan yang membungkus embrio.
Diameter telur Artemia berkisar antara 200 – 300 μ (0.2-0.3 mm). Sedangkan berat kering berkisar 3.65 μg, yang terdiri dari 2.9 μg embrio dan 0.75 μg cangkang (Mudjiman, 1983).

b.2 Larva (Nauplius)
Apabila telur-telur Artemia yang kering direndam dalam air laut dengan suhu 25oC, maka akan menetas dalam waktu 24 – 36 jam. Dari dalam cangkang akan keluar larva yang dikenal dengan nama nauplius, seperti yang terlihat pada gambar 2. dalam perkembangan selanjutnya nauplius akan mengalami 15 kali perubahan bentuk. Nauplius tingkat I = instar I, tingkat II = instar II, tingkat III = instar III, demikian seterusnya sampai instar XV. Setelah itu nauplius berubah menjadi Artemia dewasa, seperti yang terlihat pada gambar 3.




Gambar 2. Nauplius dan Perubahan Bentuknya.





Gambar 3. Artemia Dewasa

C. Dekapsulasi
Penampang luar dari cyste Artemia sering dikontaminasi dengan bakteri, jamur dan organisme pengganggu lainnya. Dekapsulasi sangat direkomendasikan sebagai prosedur disinfektan sebelum melakukan penetasan telur Artemia. Cangkang bagian luar yang disebut chorion tidak dapat dicerna dan sukar dipisahkan dari nauplii hanya dengan bilasan air. Jika tidak dilakukan, maka hal ini dapat mengakibatkan kematian larva dan benih ikan dan crustacean (Warland et.al., 2001).
Menurut Daulay (1993) cara melakukan decapsulasi sebagai berikut (gambar 4):
- Telur direndam di air tawar dengan perbandingan 12 ml air tawar untuk 1 gram cyste Artemia. Perendaman dilakukan dalam tabung berbentuk corong yang bagian dasar bisa dibuka. Maksud penggunaan tabung tersebut agar pembuangan air dapat dilakukan dengan mudah tanpa mengganggu cyste. Sementara itu, pada bagian dasar corong diberi aerasi.
- Setelah 1 jam suhu air diturunkan hingga 15oC, dengan penambahan es. Setelah suhu turun baru ditambahkan NaHOCl 5,25% sebanyak 10 ml untuk 1gram cyste. Setelah 15 menit, larutan NaHOCl dibuang, kemudian cyste dicuci dengan air laut dan dibilas 6 – 10 kali hingga pengaruh NaHOCl benar-benar hilang.
Selama decapsulasi telur yang semula berwarna coklat akan berubah menjadi putih, lalu kemudian berubah lagi menjadi orange. Setelah decapsulasi, telur ini dapat disimpan untuk ditetaskan, atau bisa langsung diberikan sebagai pakan alami pada benih ikan dan atau larva udang.



Gambar 4. Skema Cara Melakukan Decapsulasi (Daulay, 1993)

KEUNGGULAN NUTRISI
A. Protein dan Asam Amino
Artemia mudah sekali dicerna karena kulitnya sangat tipis (< pufa =" Polyunsaturated" hufa =" Highly">

Tabel 2. Profil Asam Lemak dari Nauplius Artemia yang menggunakan berbagai media pengkayaan. Nilai dilaporkan dalam satuan mg/100 mg Berat Kering.













Sumber : Tamaru et.al. (2004)




Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa semua prosedur pengkayaan tersebut menghasilkan penambahan yang nyata terhadap total asam lemak dibandingkan dengan individu nauplius Artemia yang baru ditetaskan. Penambahan dalam total asam lemak memberikan kesamaan pada pertambahan densitas kalor pakan (misalnya pertambahan kandungan energi). HUFA 20 : 5n-3/ 5ω3 atau eicosapentanoat (EPA) dan 22:6n-3 atau docosahexaenoate (DHA) nyata tertinggi pada nauplius Artemia yang melalui proses pengkayaan. Perbedaan jumlah antara EPA dan DHA merefleksikan perbedaan perbedaan media pengkayaan yang digunakan. Sepertihalnya perbedaan kuantitatif dan kualitatif dalam sumber-sumber asam lemak tesebut (contoh minyak ikan atau algae) yang dapat dipersiapkan untuk dikomersilkan sebagai media pengkayaan. Proses pengkayaan dalam perbedaan waktu seperti yang tersaji pada Tabel 3. sebagai asam lemak yang diambil dari Artemia, profil asam lemaknya berubah sesuai dengan durasi dari periode pengkayaan. Artemia yang baru ditetaskan memiliki 7.0 mg total asam lemak/100 mg berat kering Artemia dengan level DHA tidak terdeteksi. Setelah 12 jam pengkayaan total asam lemak bertambah secara significant menjadi 10.3 mg/100 mg dan Artemia secara significant memiliki jumlah tertinggi asam lemak essensial pada family n-3 dan n-6. setelah 24 jam pengkayaan, secara significant tingkat asam lemak essensial dan total asam lemak dapat tercapai. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa waktu terbaik dan lamanya proses pengkayaan ditentukan juga ketika mempersiapkan nauplius Artemia sebagai pakan untuk larva atau yang berhubungan dengan ikan (Tamaru, et.al., 2004).

Tabel 3. Profil Asam Lemak dari Nauplius Artemia menggunakan SELCO (300 ppm) diperkaya berturut-turut pada waktu 12 dan 24 jam. Nilai-nilai dilaporkan dalam satuan mg/100 mg Berat Kering.

















Sumber : Bio Marine inc. http://www.aquafauna.com/ (2004)

Sebagai perbandingan ditampilkan pula kandungan asam lemak beberapa pakan alami yang juga sering digunakan dalam pemeliharaan larva dan benih ikan serta udang dan crustacean lainnya (kepiting, dll.) (Tabel 4 dan 5). Dimana Moina dan Rotifera air tawar alamiah dibesarkan dengan "green water" dari tanki ikan guppy. Media pengkayaan Moina dan Rotifer air tawar adalah Algamac 2000 (100 ppm) dan Mircofeast (100 ppm).

Tabel 4. Perbandingan dari berbagai profil asam lemak yang tidak diperkaya dan diperkaya. Nilai-nilai dilaporkan dalam satuan mg/100 mg Berat Kering.
















Pada tabel tersebut jelas terlihat bahwa prosedur-prosedur pengkayaan juga meningkatkan kauntitas dan kualitas dua asam lemak essensial (EPA dan DHA) dari pakan alami yang digunakan pada pemeliharaan ikan air tawar. (Tamaru et al. 2004).

Tabel 5. Persentase Komposisi/Kandungan Asam Lemak beberapa Spesises Diatome dan Prymnesiophytes



























Dari Tabel-tabel tersebut terlihat perbedaan yang cukup significant antara nauplius Artemia alami dan hasil pengkayaan dengan beberapa pakan alami lainnya. Misalnya untuk asam lemak essensial 20:5n3 atau EPA (eicosapentanioat) dan 22:6n3 atau DHA (docosahexanoat) terlihat perbedaan yang sangat menyolok antara Artemia yang ditetaskan secara alami tanpa pengkayaan dengan Moina dan Daphnia tanpa pengkayaan (Tabel 2 dan 4) yaitu untuk Artemia tanpa pengkayaan EPA 0.44 mg/100 mg BK dan DHA 0, sedangkan Moina dan Daphnia tanpa pengkayaan kandungan EPA masing-masing sebesar 0.07 mg/100 mg BK dan 0.11 mg/100 mg BK sementara DHA 0. Jika dibandingkan lagi dengan kandungan EPA dan DHA dari beberapa spesies diatome (Tabel 5) ternyata Artemia alami (tanpa pengkayaan) sedikit lebih tinggi kandungan EPA dan DHAnya. Sementara itu, kandungan EPA dan DHA dari Artemia hasil pengkayaan ternyata menunjukkan nilai tertinggi dari Moina dan Daphnia hasil pengkayaan (Tabel 2 dan 4), yaitu rangenya antara 0.59 – 1.83 mg/100 mg BK untuk EPA dan 0.25 – 2.33 mg/100 mg BK untuk DHA, sementara Moina dan Daphnia hasil pengkayaan masing-masing hanya memiliki range 0.37 mg/100 mgBK untuk EPA, 0.75 mg/100 mg BK untuk DHA dan 0.11 mg/100 mg BK untuk EPA serta 0 mg untuk DHA.

PENGGUNAAN ARTEMIA
Kenyataan menunjukkan bahwa cyste Artemia banyak digunakan dalam kegiatan-kegiatan pembenihan ikan dan crustacean terutama sebagai sumber pakan hidup (Primavera, et.al. dalam Manoppo, 1983). Hal ini disebabkan karena nauplius Artemia merupakan salah satu sumber pakan hidup yang paling baik bagi larva ikan dan crustacean (Sorgeloos dalam Manoppo, 1983).
Jangkauan pemanfaatan Artemia sangat luas, contohnya Artemia dewasa dapat dijadikan pakan untuk berbagai jenis ikan hias. Selain itu Artemia dewasa yang dikeringkan dalam bentuk serpihan bisa digunakan untuk memperkaya gizi pellet (Susanto, 1992). Karena kelebihan-kelebihan tersebut maka harganya pun cukup tinggi, dimana menurut sepengatahuan penulis harga Artemia dalam bentuk cyste pada tahun 1996 – 1997 antara Rp 100.000 – 115.000/ kg. Sedangkan menurut Suara Merdeka dalam press releasenya tanggal 23 Desember 2002 menyebutkan bahwa harga Artemia dalam bentuk cyste antara Rp 400.000 – 500.000/kg. Dapat dilihat bahwa dalam kurun waktu 5 tahun peningkatan harga cyste Artemia mencapai 5 – 6 kali lipat. Sehingga jika komoditas ini tidak diusahakan padahal kebutuhan semakin meningkat, maka akan terjadi kelangkaan yang berpengaruh significant terhadap kelangsungan usaha petambak dan petani ikan.
Penggunaan Artemia sebagai pakan yang penting banyak dilaksanakan di unit-unit pembenihan ikan dan udang. Umumnya Artemia yang diberikan untuk larvae udang dan ikan dalam bentuk cyste atau nauplius instar I (berumur 2 jam). Berikut ini beberapa contoh penggunaan Artemia diberbagai kegiatan usaha:
1. Pembenihan Udang Galah
pada pembenihan udang galah, anak Artemia sangat dibutuhkan sebagai makanan larvanya. Larva udang galah PL I – V membutuhkan anak Artemia sebanyak 4 ekor/ml/hari atau 2 ekor/ml/hari, jika padat penebaran 75 ekor/liter. Untuk larva yang lebih besar (tiap hari diberi pakan tambahan) membutuhkan anak Artemia sebanyak 5 ekor/ml. Untuk larva PL VII dan seterusnya, pemberian anak Arrtemia cukup 3 – 4 kali sehari (Mudjiman, 1983).
2. Pembenihan udang Penaeus
menurut Lumenta dan Christensen (1992) pemberian pakan Artemia pada udang windu dimulai pada tingkat mysis sampai PL-15. Pemberiannya setiap 3 – 4 jam sekali dengan kepadatan 1 – 5 nauplius/ml (mulai tingkat mysis) dan dinaikkan terus sampai 10 nauplius/ml (pada pemeliharaan di Taiwan). Untuk pemeliharaan di Philippina pemberiannya hanya sampai tingkat PL-10 dengan jumlah Artemia yang diberikan 0,5 individu/ml dan dinaikkan sampai 5 ind/ml.
Telah diperlihatkan bahwa ketika Artemia yang lebih besar menjadi pakan, dimulai dengan Artemia yang baru ditetaskan (0.6 mm) pada PL-1 and berakhir dengan brine shrimp pra-dewasa (6.0 mm) pada PL-20, kekenyangan, kejenuhan dapat dihasilkan oleh volume Artemia di dalam perut udang, lebih baik dibandingkan beberapa organisme lain sebagai pakan.Misalnya, ketika ukuran mangsa yang tersedia adalah 4 mm malahan sampai kurang lebih 2 mm, jumlah artemia yang dikonsumsi lebih dari setengah (separuhnya). Dalam pengertian secara luas bahwa kandungan nutrisi Artemia setelah beberapa jam dari proses penetasan, harus diperkaya jika hendak dijadikan pakan larva untuk mencegah difesiensi nutrisi. Beberapa eksperimen menunjukkan bahwa pemberian pakan Artemia tanpa melalui proses pengkayaan nutrisi menghasilkan ukuran udang lebih rendah dibanding udang yang diberi pakan Artemia yang baru ditetaskan. Hal ini memperlihatkan penggunaan artemia sebagai pakan pada budidaya larva udang stadia mysis 3 dan udang PL yang lebih lanjut, dimana diberikan pakan Artemia hasil pengkayaan selama 12 sampai 24 jam. Tabel 6 memperlihatkan kemungkinan penggunaan pakan Artemia secara rutin.
Tabel 6. Pemberian Pakan Artemia untuk Larva Udang Penaeid

Sumber :Anonim on http://www.aquafauna.com/ (2004)

3. Perbaikan Kualitas Garam Tambak
Budidaya Artemia telah diuji coba di tambak garam Rembang. Kegiatan ini dilakukan agar kualitas garam lebih baik. Artemia berfungsi sebagai filter feeder, dimana penyaringan makanan pada air yang kotor di tambak garam mengakibatkan hasil garam lebih putih. Air evaporasi pada proses penguapan saat menjadi kristal-kristal garam menjadi lebih bersih. Sebelum ditebari artemia air laut pada saluran menuju tambak sangat keruh, namun setelah tiga hari setelah pelepasan Artemia air langsung jernih. Penyebaran Artemia dilakukan pada tingkat salinitas tinggi pada musim kemarau (Suara Merdeka, 23 Desember 2002).
4. Pembenihan Ikan Laut
Larva ikan Silverside (Menidia menidia) yang dipelihara dengan nauplius Artemia Brazil, dapat mencapai persentase hidup 87 – 97%. Penggunaan nauplius Artemia dari Utah (AS) dan dari Italia memberikan hasil yang baik terhadap pertumbuhan larva ikan. Jumlah anak Artemia yang diberikan sebanyak 100 – 200% berat ikan per hari. Pada Ikan Bandeng, benih yang beratnya 5 g/ekor dalam waktu 75 hari dapat mencapai 250 g/ekor dengan sintasan 80 – 95% (Mudjiman, 1995). Pemberian pakan Artemia pada larva bandeng dimulai ketika larva mencapai umur 15 hari, mula-mula diberikan sebanyak 0.5 ind/ml setelah 2 hari atau lebih dinaikkan menjadi 1 ind/ml hingga hari ke 21. selanjutnya dapat juga diberikan sampai hari ke 30 sebanyak 1.5 – 2.0 ind/ml (Lumenta dan Christensen, 1992).
Untuk larva ikan baronang, Artemia diberikan pada umur larva 15 hari dengan jumlah 0.3 ind/ml sampai pada hari ke 20, kemudian dinaikkan hingga 0.5 ind/ml sampai pada hari ke 25 dan 1 – 2 ind/ml sampai pada hari ke 35. pada budidaya ikan Kakap sebelum benih ditebar terlebih dahulu diberi cyste Artemia sebanyak 1 kg/ha. Untuk pemberian pada larva ikan dimulai pada hari ke 15 sebanyak 1 ind/ml sampai hari ke 21 dan dapat diberikan terus sampai hari ke 30 sebanyak 2 ind/ml. Untuk larva ikan belanak diberikan Artemia sebanyak 2 – 3 ind/ml mulai umur larva 30 hari sampai 50 hari (Lumenta dan Christensen, 1992).
Masih banyak lagi penggunaan Artemia khususnya sebagai pakan hidup alami dalam kegiatan pembenihan ikan dan crustacean, dalam hal ini tidak hanya terbatas pada ikan laut dan payau saja tapi juga dapat diguanakan dalam pembenihan ikan air tawar seperti ikan mas, nila, gurame, dll.


PENUTUP
Artemia merupakan pakan yang penting bagi organisme budidaya seperti ikan, udang dan kepiting. Hal ini disebabkan karena nilai nutrisi yang dikandungnya tinggi dan penggunaannya pun luas. Tetapi kendala utama khususnya di Indonesia adalah kurangnya stok produksi dalam negeri, sehingga mempengaruhi pada harga jual yang tinggi. Untuk itu, perlu dilakukan peningkatan produktivitas lahan tambak melalui budidaya Artemia, disamping lahan tambak terproduktifkan juga meningkatkan produksi Artemia lokal. Selain itu proses pengkayaan nutrisi Artemia lokal perlu semakin digalakkan, terutama untuk menyaingi produk-produk Artemia dari luar negeri yang umumnya sudah melewati proses pengkayaan sebelum dipasarkan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1994. Menjadikan Artemia Sebesar Rebon. Techner, No.16 Tahun III. Edisi November 1994. P.T. Longmen Indo Nusantara, Jakarta.

Anonim, 2004. Larval Feed Alternatives. Bio Marine Inc. Aquafauna. http://www.aguafauna.com/. Hawthorne, California(USA).

Cholik, F.; Daulay, T., 1985. Artemia salina(kegunaan, Biologi dan Kulturnya). INFIS Manual Seri No.12. Direktorat Jendral Perikanan dan International Development Research Centre.

Lumenta, C.; Christensen, M.S., 1992. Modul Pengenalan Budidaya Perairan (Pengantar Biotek Marikultur). Proyek Marine Science Fakultas Perikanan, UNSRAT-Manado.

Manoppo, H., 1983. Prospek Teknik Produksi Cyste Brine Shrimp (Artemia salina LEACH) di Indonesia. Fakultas Perikanan, Unsrat-Manado.

Mudjiman, A., 1983. Udang Renik Air Asin (Artemia salina). P.T. Bhratara Karya Aksara, Jakarta.

----------------, 1995. Makanan Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sambali, H., 1990. Pengaruh Pemberian Pakan Ragi Roti, Dedak Padi dan Thetraselmis chui Dalam Dosis yang Berbeda Terhadap Prosentase Hidup Artemia. Fakultas Perikanan, Unsrat-Manado.

Sorgeloos, P.; Kulasekarapandian, S., 1987. Teknik Budidaya Artemia (Culture of Live Feed Organism with Special Reference to Artemia Culture). Terjemahan: Kontara, dkk. INFIS Manual Seri No.53. Direktorat Jendral Perikanan dan International Development Research Centre.

Suara Merdeka, 23 Desember 2002. Dengan Budidaya Artemia Kualitas Garam Lebih Baik.

Tunsutapanich, A., 1979. Cyst Production of Artemia in Thailand Salt Ponds. National Freshwater Prawrn Research and Training Centre.

Tamaru, C.S.; Harry Ako, R.Paguirigan, Jr.; Pang, L., 2004. Enrichment of Artemia for Use in Freshwater Ornamental Fish Production. CTSA Publication No. 133. http://www.lama.kcc.hawaii.edu/CSTA/publications/Artemia.htm.

Warland, D. and T.Warland, 2001. Artemia : Decapsulation, Hatching, Feeding, On-Growing abd Enrichment. OZ. Reef Marine Park. http://ozreef.org/ Melbourne, Australia.

No comments: