Wednesday, January 2, 2008

"Problem Solving" Danau Tondano

Masalah konservasi lingkungan saat ini merupakan isu penting yang selalu diangkat oleh para pakar dan stakeholder pada setiap kesempatan, baik itu di seminar, lokakarya dan pertemuan-pertemuan ilmiah lainnya. Dimana, notabene pertemuan-pertemuan tersebut pada dasarnya hanya sanggup untuk “membicarakan “ masalah-masalah pelestarian alam tanpa ada tindakan yang nyata di lapangan. Salah satu contoh ke”NATO”an ini adalah pada masalah Danau Tondano. Banyak sudah para pakar dan pengamat lingkungan berbicara, tapi Cuma sebatas usul, saran “without action” di lapangan.

Penulis saat ini akan mengulas “problem solving” Danau Tondano dari kacamata perikanan, sebab telah banyak para pakar yang mengulas masalah Danau Tondano tapi belum sampai menyentuh aspek perikanan. Mengapa hal ini harus diangkat? Sebab isu yang berkembang saat ini di kalangan petani keramba jaring tancap (KJT) di Danau Tondano adalah akan adanya penguarangan unit-unit KJT milik petani dengan alasan mengatasi masalah daya dukung danau yang semakin berat. Sebenarnya hal ini tidak perlu dilakukan sama sekali oleh pihak pengambil kebijakan daerah, sebab ada suatu teknologi konstruksi KJT yang memiliki beberapa keunggulan diantaranya ramah lingkungan, hemat tempat, hemat pakan, mudah diterapkan petani, relative murah dan yang paling penting adalah mendatangkan keuntungan financial yang tidak sedikit untuk petani KJT. Selain itu teknologi inovasi baru KJT ini telah diuji langsung di lapangan (danau Tondano) serta telah terbukti secara teknis dan ekonomis (bukan sekedar omong kosong). Teknologi KJT tersebut adalah Keramba Jaring Tancap Sistim Ganda atau bisa dikatakan “2 in 1”. Sebab dalam satu unit KJT terdapat 2 sub unit KJT, yaitu satu KJT besar bagian luar, dimana ditebar ikan mas dan satu unit KJT kecil bagian dalam dimana ditebar ikan nila. Prinsipnya adalah ikan nila tidak diberi pakan, jadi hanya ikan mas yang diberi pakan sementara ikan nila memanfaatkan sisa-sisa pakan dan kotoran ikan mas serta plankton dan tumbuhan air yang menmpel di jaring. Sebab pada dasarnya ikan nila merupakan ikan omnivore dan sangat efisien dalam pengambilan makanan juga pertumbuhannya cepat walaupun kadar protein dalam pakan hanya ± 20%. Dengan cara ini buangan yang disebabkan oleh sisa pakan yang berlebihan dan kotoran ikan dapat diminimalisir sehingga berdampak pada recovery lingkungan perairan danau. Selain itu petani dapat menghemat pakan, sebab tidak perlu lagi memberi pakan pada dua jenis ikan yang berbeda (mas dan nila) tapi cukup pada ikan mas saja sementara ikan nila memanfaatkan sisa pakannya.

Teknologi KJT ini pertama kali diuji coba di Waduk Jatiluhur, kemudian oleh para peneliti perikanan di BPTP Sulut mencoba untuk menguji adaptasikannya di Danau Tondano, dan ternyata memang benar adanya bahwa sistim KJT ganda ini ramah lingkungan, hemat tempat, biaya, pakan dan menguntungkan. Dalam penelitian tersebut dicobakan beberapa padat tebar ikan nila untuk mengetahui aspek spesifik lokalita teknologi ini. Penelitian ini merupakan suatu penelitian terapan di lahan petani (pengkajian) sehingga lebih banyak melibatkan para petani KJT di lokasi penelitian (Kec. Eris). Peneliti dalam hal ini hanya bertindak sebagai motivator dan informan sekaligus trainer teknologi, sedang pelaksananya adalah petani yang dibantu penyuluh dan peneliti lapangan. Sehingga secara tidak langsung dan lambat laun petani akan tahu dan terbiasa dengan sistim budidaya ikan dalam KJT ganda ini. Selain itu petani pun diinformasikan dan diajarkan bagaimana menghitung kelayakan dan keuntungan usaha ini, sehingga mereka benar-benar akan melihat secara langsung dampak positif dari penerapan sistim KJT-ganda ini. Sebab tanpa cara tersebut mungkin mereka akan ragu-ragu untuk melaksanakannya.
Informasi selengkapnya dapat menghubungi BPTP Sulut Telp. 0431-838637 email : nsaiat@yahoo.com
contact person Zulkifli Mantau (email :
mantau66@yahoo.com), Victor Tutud, Sudarty

No comments: