Friday, February 1, 2008

MASKULINISASI IKAN NILA

Maskulinisasi ikan nila adalah suatu proses pembentukan jenis kelamin jantan dimana larva-larva ikan nila baru berumur 7-19 hari dirangsang dengan hormon Metil Testosterone (MT) untuk membentuk jenis kelamin jantan. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah:
1) Pemilihan induk jantan dan betina ikan nila. Induk jantan yang digunakan berukuran  200 gr/ekor ( umur 4 bulan) sebanyak 6 ekor. Sedangkan induk betina berukuran  150 gr/ekor ( umur 4 bulan) sebanyak 18 ekor.
2) Persiapan kolam induk/kolam pemijahan yang dilengkapi dengan pen/pagar untuk tempat pemijahan. Induk ditebar di dalam pen tersebut dengan perbandingan 1:3 (1 ekor jantan dan 3 ekor betina). Untuk kolam pemijahan dibutuhkan  3 petakan kolam dimana pada tiap petakan diletakkan 2 – 3 buah pen/pagar/kalasey untuk pemijahan induk.
3) Persiapan pakan berhormon
Sebelum hormon ditambahkan ke dalam pakan terlebih dahulu dilarutkan dalam alkohol, volume alkohol disesuaikan dengan dosis hormon. Hormon metil testosterone ditakar sebanyak 15 mg ( 1/8 bagian sendok teh. Untuk volume alkohol sebagai berikut: alkohol 95%: 15 mg hormon MT: 7.5 ml alkohol. Untuk alkohol 70%: 15 mg MT: 9 ml alkohol ( 1/2 strip batang korek api). Alkohol diukur dalam gelas minum biasa.
Larutan hormon-alkohol tersebut dituangkan dalam pakan/pellet yang sudah dihaluskan terlebih dahulu sedikit demi sedikit, dimana sebagai patokan dasar pellet yang dibutuhkan sebanyak 1 kg/dosis hormon. Sehingga dosis hormon MT dalam pakan menjadi 15 mg hormon MT dalam 1 kg pellet halus. Adonan tersebut diangin-anginkan sampai betul-betul kering dan bau alkohol hilang, kemudian adonan tersebut dimasukkan ke dalam kantong plastik tertutup dan dapat disimpan selama 2 bulan.

4) Persiapan kolam pendederan dan Pemeliharaan larva. Setelah induk nila betina mulai melepaskan larva keluar dari mulut (mulai 7 hari) maka larva-larva tersebut segera ditangkap dan dipelihara dalam kolam pendederan. Selanjutnya Pakan berhormon diberikan selama  1 bulan pemeliharaan larva sebanyak 10% dari berat total larva/happa. Sebab setelah waktu tersebut larva/benih telah terbentuk jenis kelaminnya, sehingga penggunaan yang terlalu lama tidak mempengaruhi pembentukan jenis kelamin, malahan dapat membahayakan jika digunakan terus untuk pembesaran ikan (ikan konsumsi).
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan IPPTP Kalasey diperoleh persentase benih jantan yang terbentuk mencapai 93 %, dengan tingkat kematian benih rata-rata 10%. Dari usaha ini keuntungan bersih pertahun Rp 19.971.500 dan modal kembali setelah 13 ekor induk betina memijah.
Sebagai saran untuk para petani bahwa Ikan nila jantan dianjurkan untuk dibesarkan menjadi ikan konsumsi sebab ikan nila jantan memiliki tingkat pertumbuhan lebih cepat dibanding betina. Karena ikan nila betina jika telah selesai memijah pertumbuhannya akan tetap dan cenderung menurun sebab energi terkuras pada saat pemijahan. Disamping itu ikan nila jantan ukuran tubuhnya relatif lebih besar dibanding betina dan dagingnya pun lebih tebal.

No comments: