Monday, May 19, 2008

EFORIA DAN HYSTERIA REFORMASI

10 tahun sudah era reformasi berjalan, namun bangsa Indonesia masih terjebak dalam suatu eforia dan hysteria yg berkepanjangan. Wujud reformasi yg dicita-citakan para pionernya sudah melenceng jauh. Pemaksaan demi pemaksaan kehendak dengan berkedok reformasi dan demokrasi semakin menjadi-jadi.

Inikah wujud akhir reformasi dan demokrasi yg dicita-citakan dulu? Masyarakat, mahasiswa, dan elemen-elemen yang pro dan anti penguasa senantiasa memaksakan semua keinginannya. Demonstrasi-demonstrasi semakin marak dan tak ada habis-habisnya. Sedikit gesekan dan atau ketidak puasan satu elemen masyarakat, maka dengan seketika akan memunculkan gejolak pemaksaan terhadap penguasa atau pihak lain yang kontra atau tidak sejalan dengan elemen masyarakat tersebut.

Demonstrasi mahasiswa dan elemen-elemen masyarakat yang semakin marak dan penuh anarkis dalam menyikapi isu BBM dan berbagai isu sosial-politik saat ini, merupakan suatu fakta akan terjadinya reformasi yang salah kaprah dan demokrasi yang kebablasan. Mengapa kebablasan? Karena sebetulnya kita masih meraba-raba apa esensi dan substansi dari demokrasi itu sendiri. Pengejawantahan isi demokratisasi yang lebih bertanggung jawab masih jauh dari harapan.

Reformasi dan demokrasi diartikan secara sempit dan parsial. Keduanya diartikan sebagai kebebasan. Namun kebebasan yang bagaimana? Esensi kebebasan dalam berdemokrasi notabenenya adalah kebebasan yang bertanggung jawab. Bagaimana mungkin kita menyuarakan dan menuntut kebebasan (baik berpikir, berpendapat, bertindak, dll) sedangkan kita sendiri tidak menghargai kebebasan orang lain. Lebih jauh lagi bagaimana mungkin kita menuntut hak-hak asasi sementara kita menginjak-injak hak asasi orang lain.
Fenomena tersebut jelas terlihat dewasa ini. Dimana satu-satunya cara yang dipahami agar tujuan atau keinginannya tercapai adalah berdemo memaksakan kehendak, tanpa mengindahkan hak-hak public yang mungkin terganggu dan terusik oleh karena ulah segelintir pihak pendemo tersebut.

Apakah ini yang diimpi-impikan oleh para reformis pada awal terjadinya? Apakah ini wujud pengorbanan dari kawan-kawan mahasiswa yang gugur pada peristiwa berdarah Mei’98? Apakah para intelektual muda saat ini lebih mudah diombang-ambingkan oleh kepentingan para elit-elit politik yang “sakit hati” dengan penguasa? Yang menjadi pertanyaan besar apakah nanti setelah para elit politik “sakit hati” ini naik ke tampuk kekuasaan maka dijamin negeri ini akan lebih baik? Non sense…

Mewujudkan suatu perubahan bukanlah pekerjaan mudah. Amerika Serikat saja butuh 70 tahun dalam meminimalisir korupsi (memerangi KKN). Itupun belum tuntas sampai saat ini. Nah, bagaimana dengan Indonesia? Bagaimana mungkin seorang penguasa hanya diberi waktu 100 hari memerangi KKN? Memangnya ini permainan sihir dan sulap?
Memang diakui bahwa Indonesia ini terlalu banyak “pengamat” dan “pakar”. Sehingga ujung-ujungnya begitu banyak “konsep kebijakan” yang hanya tinggal konsep tanpa implementasi yang baik di lapangan. Bagaimana mungkin suatu konsep kebijakan (semisal kebijakan ekonomi) hanya dirumuskan lewat suatu “desk study”, tanpa dibarengi data-data dan fakta-fakta konkret dari lapangan. Apakah negeri ini akan dibangun dengan “berandai-andai”, “ramal-meramal”, emangnya paranormal. Negeri ini perlu dibangun dengan fakta-fakta konkret di lapangan. Apa yang menjadi keinginan dan gejolak sosial di masyarakat, itulah fakta yang sebenarnya.

Maka, marilah segenap anak bangsa, dalam menyikapi reformasi dan demokrasi Indonesia yang sedang bergulir kencang ini, janganlah kita terjebak dalam eforia dan hysteria tanpa batas. Lebih baik marilah kita bangun negeri ini dengan ide-ide cemerlang, bukan dengan anarkisme dan pemaksaan yang tidak bertanggung jawab. Sebab kedewasaan berdemokrasi akan membawa Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih bermartabat dan terhormat.
= SALAM DAMAI =
Alpen, 17 Mei 2008 02.00

No comments: