Tuesday, February 10, 2009

1429 - H

Manado, 29 September 2008, 29 Ramadhan 1429 H, 11:43 PM
Bulan puasa kali ini penuh dengan tantangan, cobaan, ujian atau entah apalah namanya yg cocok untuk menggambarkan bagaimana hidup kian menggulung aku dan keluargaku dalam pusarannya yg semakin kencang dan tiada akhir.
Bulan penuh rakhmat tahun ini diawali dengan kabar tidak mengenakkan yg kuterima dari Manado, kala perjuangan di Bogor semakin menunjukkan taring dan terangnya, kabar bahwa kedua anakku jatuh sakit silih berganti dimulai dari puteri kesayanganku Zahra kemudian disusul sang jagoanku Ical. Membuat perjuanganku di Bogor demi keluarga yg kutinggalkan di Manado, semakin mendapatkan tantangan.
Bulan penuh maghfirah ini akhirnya ditutup pula dengan sakitnya kembali buah hatiku Zahra. Batuk disertai demam tinggi yg tak kunjung reda membuat aku dan istriku semakin gundah gulana melihat penderitaan buah hati kami tersebut. Keadaan semakin diperburuk dengan semakin memburuknya kondisi keuangan kami, tabunganku yg semakin hari semakin menipis dihisap oleh kebutuhan studi di Bogor, sementara tabungan istriku juga tak kalah seretnya. Gaji yg diperoleh selama sebulan sebanyak 2 juta rupiah lebih sedikit, habis hampir satu juta untuk pembiayaan kesehatan putriku. Namun berapalah arti jumlah nominal uang tersebut dibanding kesehatan dan kembalinya keriangan putri kesayangan kami. Kondisi kejiwaan kami pun tak kalah seretnya, belum lagi dilanda was-was kondisi keuangan, sekarang ditambah stress oleh karena intervensi dan pendiktean yg berlebihan dari seseorang yg sebetulnya sangat kami hormati dan cintai. Namun memang begitulah resiko yg harus kami hadapi. Resiko karena kebodohan dan kelemahanku sebagai kepala rumah tangga yg tidak mampu melindungi dan membiayai keluargaku secara baik dan mapan. Belum lagi kesehatan putriku membaik, sekarang giliran putraku terindikasi akan demam. Suhu badannya cukup tinggi, namun memang belum begitu mengkawatirkan, tapi kami harus segera mengantisipasi sebelum lebih jauh. Segera kami berikan pengobatan pertolongan pertama, berupa obat anti demam. Insya Allah, “jagoanku” tsb tertidur lelap dan esoknya bangun dengan segar bugar – Amin.
Bulan suci ini, lengkaplah sudah cobaan, ujian atau apalah namanya dalam kehidupan kami. Namun dalam malam terakhir puasa ini, aku seolah mendapat penerangan (mungkin aku ragu jika itu disebut hidayah, sebab hidayah adalah rahasiaNya), dalam sholat Isya dan tarawih yg kulakukan tengah malam barusan, aku seperti kembali ke kesucianku dulu, ke keadaan/ moment yg pernah aku alami kala aku masih SMA. Kala subuh menjemput aku bersimpuh dihadapanNya, kala kedamaian yg amat sangat aku rasakan saat itu, kala kedekatan yg amat dekat yg aku alami saat itu, kembali hadir saat ini. Ketenangan, keheningan alam raya membawa kekhusukan dalam sholatku, menghanyutkan aku dalam nuansa damai dan hening yg sudah lama tidak aku rasakan lagi. Dan seketika meluncurlah do’a-do’a permohonan dan pengharapan kepada sang khalik akan kesembuhan anak-anakku dan perlindungan kepada keluargaku.
Ya, Allah tempatkanlah kami sebagai orang-orang yg selalu dalam kesabaran dan senantiasa mensyukuri segala nikmat yg Engkau berikan kepada kami, sekecil apapun itu. Amin.

No comments: