Sunday, May 30, 2010

pembatasan makan nasi? kebijakan basi...

Sunday, May 30, 2010
saat ini tengah gencar-gencarnya pemerintah via kementerian pertanian mensosialisasikan "tidak makan nasi" atau istilah kerennya diversifikasi pangan atau penggalakan pangan non beras...basi...bagaimana mungkin program ini dipaksakan sementara program -program percepatan produksi beras dan perluasan serta pencetakan sawah baru tak pernah lepas dari core program kementerian pertanian. sebut saja program P2BN (peningkatan produksi beras nasional) yg belum beres, SLPTT padi sawah yg nasibnya sama, IP 400 (intensifikasi padi 400 alias 4 kali tanam setahun) dan seabrek program lainnya yg tujuan utamanya sama "PENINGKATAN PRODUKSI PADI".
Kenyataannya, sejak zaman orla sampai zaman reformasi ini beras tetap menjadi komoditas politik di Indonesia. Kelangsungan hidup suatu pemerintahan terkadang ditentukan oleh ketersediaan beras di masyarakat. Kesalahan masa lalu yg menempatkan beras sebagai pangan utama dan mereposisi pangan-pangan utama lain di beberapa daerah di Indonesia (seperti sagu di papua, maluku dan sebagian sulawesi, jagung di sebagian sulawesi, kalimantan, ubi di papu, sulawesi,) menjadi pangan nomor dua membuat lambat laun pola konsumsi masyarakat Indonesia berubah menjadi melulu beras (nasi). Saat ini lidah kita terasa tidak klop jika tidak makan nasi. Bahkan di beberapa daerah yang semula bermakanan pokok seperti sagu, masyarakatnya saat ini sudah merasa gengsi untuk makan sagu. tetap nasi menjadi incaran pangan pokok utama. nasi is the best.
Betapa ironisnya pada saat pola konsumsi masyarakat Indonesia ini telah dirubah total menjadi pemakan nasi, kok bisa-bisanya dengan entengnya pemerintah menganjurkan (kalau tidak mau dikatakan memaksakan) masyarakat Indonesia kembali ke pola konsumsi lama yi non beras. Berbagai macam program kemudian dilaksanakan di daerah2 yg dulunya berpola konsumsi non beras, sebut saja program makan jagung di hari Sabtu oleh salah satu pemerintah kabupaten di salah satu propinsi di negeri ini, yg memaksakan para PNSnya harus makan jagung di hari Sabtu (walaupun cuma sebatas ceremonial).
Pendek kata tak semudah seperti membalikkan telapak tangan...pemerintah via kementerian pertanian harus berpikir 100 kali lagi untuk memaksakan program pembatasan makan nasi ini dilaksanakan di negeri "beras" ini. Biarkan pola konsumsi masyarakat berubah secara alamiah, bukan dengan pemaksaan program serta pembatasan distribusi beras (yg surplusnya mungkin saja diekspor...who knows?). Program2 peningkatan produksi pangan non beras (jagung, sagu, ubi, singkong) harus segera dicanangkan dan dilaksanakan secara simultan. Serta yg paling penting jangan pernah mencoba mengkonversi lahan sawah menjadi lahan pertanian non beras...sebab akibatnya pasti fatal ...

No comments: